Tertatihnya Celta Vigo dan Nasib Eduardo Coudet

Para penggemar La Liga Spanyol di pengujung 1990-an dan awal 2000-an tentu mengenal dengan baik klub bernama Celta Vigo. Mereka memang bukan pesaing juara macam Atletico Madrid, Barcelona, Real Madrid maupun Valencia, tetapi kiprah tim asal Galicia ini seringkali mencengangkan. Termasuk saat menembus 16 besar Liga Champions 2003/2004 sebelum dikandaskan oleh Arsenal.

Konsistensi Celta finis di zona Eropa dan ikut berkompetisi di ajang regional memunculkan julukan EuroCelta. Apalagi materi pemain Los Celestes pada masa itu bisa dibilang cukup mentereng karena dihuni nama-nama seperti Catanha, Valery Karpin, Claude Makelele, Haim Revivo, Michel Salgado, dan tentu saja sang pangeran, Alexander Mostovoi.

Ada tiga pelatih yang dianggap sebagai pionir melajunya Celta ke pentas Eropa saat itu. Mereka adalah Javier Irureta, Victor Fernandez, dan Miguel Angel Lotina.

Sayangnya, konsistensi era EuroCelta diganggu oleh jebloknya performa di kancah domestik. Pada musim yang sama di mana mereka menembus 16 besar Liga Champions, Mostovoi dan kawan-kawan juga terdegradasi ke Divisi Segunda karena cuma finis di peringkat 19 La Liga.

Mujur, mereka langsung naik kasta di musim berikutnya pasca-finis di peringkat dua Divisi Segunda. Namun presensi di kasta tertinggi tak berlangsung lama karena di musim 2006/2007, Celta kembali turun kasta. Kian ironis, mereka juga dihinggapi masalah finansial sehingga terancam bangkrut.

Butuh waktu lima tahun bagi Los Celestes bermain di Divisi Segunda sampai akhirnya kembali pentas tertinggi di Negeri Matador pada musim 2012/2013. Lagi-lagi, kesemenjanaan masih lekat dengan mereka usai finis di urutan 17 atau satu tingkat di atas zona degradasi.

Barulah di musim selanjutnya Celta mulai bangkit di tangan Luis Enrique dan mengakhiri musim di peringkat sembilan. Sepeninggal Enrique yang hanya semusim melatih Los Celestes, tampuk kepelatihan berpindah ke mantan pemain mereka di era 2000-an, Eduardo Berizzo.

BACA JUGA:  Ego Messi, Sumber Keterpurukan Barcelona

Di tangan pria berkebangsaan Argentina tersebut, ada peningkatan yang sukses diperlihatkan Celta. Misalnya saja keberhasilan finis di posisi delapan dan enam pada dua musim pertamanya melatih. Pada musim ketiga, kendati cuma mengakhiri musim dengan menempati peringkat 13, Celta sanggup melaju sampai semifinal Copa del Rey dan Liga Europa!

Akan tetapi, kebersamaan dengan Berizzo selesai jelang bergulirnya musim 2017/2018 karena sang pelatih menerima pinangan Sevilla. Alhasil, Celta kudu berburu entrenador anyar.

Juan Carlos Unzue, Antonio Mohamed, Miguel Cardoso, Fran Escriba, dan Oscar Garcia lantas bergantian menduduki posisi itu dalam kurun 2017 sampai 2020. Namun sial, tak ada satu pun dari mereka yang sanggup membawa Celta tampil eksepsional. Langkah Celta pun tertatih untuk sekadar mengamankan diri di La Liga.

Melihat laju Celta yang tak memuaskan, manajemen lalu mencopot Garcia dari jabatannya pada November 2020 silam. Ia lalu digantikan oleh Eduardo Coudet.

Nama ini tidak terlalu asing bagi fans Los Celestes. Pasalnya, ia merupakan bekas pemain Celta kala aktif dahulu. Sama-sama bernama depan Eduardo dan sama-sama berasal dari Argentina, ada harapan Coudet bisa mengikuti jejak Berizzo. Namun apakah hal tersebut nyata adanya, cuma waktu yang bisa menjawab.

Debut Coudet berjalan buruk. Iago Aspas dan kawan-kawan takluk dari Sevilla. Namun setelahnya, mereka justru rutin meraup angka dengan menekuk tim-tim sekelas Granada, Athletic Bilbao, Cadiz, Alaves, Huesca, dan bermain imbang kontra Getafe. Perlahan, posisi Celta pun terkatrol menuju papan tengah.

Berkaca dari penampilan itu, asa lolos ke kejuaraan antarklub Eropa pun melambung. Terlebih, para rival sedang memperlihatkan aksi yang inkonsisten dari jornada satu ke jornada lainnya.

BACA JUGA:  Stefano Pioli dan Gagahnya Langkah AC Milan

Nahasnya, selepas pergantian tahun, performa Aspas dan kolega kembali menukik. Coudet gagal membawa anak asuhnya menang dalam lima pertandingan terakhirnya di La Liga. Akibatnya, mereka terlempar dari 8 besar klasemen. Pada periode ini pula, Los Celestes kesulitan mencetak gol.

Kemuraman di Stadion Balaidos pun kian terasa setelah Celta ditumbangkan klub divisi tiga, UD Ibiza, pada babak kedua Copa del Rey 2020/2021 awal Januari kemarin. Sentuhan Coudet pun dirasa makin hilang efeknya.

Jika terus memperlihatkan penampilan yang mengecewakan, bukan tidak mungkin manajemen Celta bakal mengirim surat pemecatan bagi Coudet. Terlebih, Carlos Mourino yang merupakan presiden klub sekaligus pemegang saham mayoritas via Grupo Corporativo Ges, hobi menggonta-ganti pelatih yang gagal membawa timnya bermain apik.

Komentar
Tidak percaya diri dengan tulisan sendiri, penganut aliran britpop yang (belum) taat, pemalas, bungkuk dan suka sekali makan pisang.