Tujuh Sosok Penting Dalam Pencapaian Leicester City

Membayangkan Leicester City di bulan November 2015 akan berada di puncak klasemen Liga Inggris adalah salah satu imajinasi liar yang mungkin akan sangat utopis dan mendekati mustahil.

Karena diktum bola itu bulat, kenyataannya, setelah berjalan 13 pekan, The Foxes, julukan Leicester, memimpin klasemen dengan keunggulan satu poin dari Manchester United dan dua poin masing-masing dari Manchester City dan Arsenal.

Untuk sebuah tim yang bulan November tahun lalu ada di peringkat 20, pengalaman tahun ini mungkin menjadi hal paling surealis dalam karier sebagian besar pemain mereka selama ini.

Ada beberapa sosok yang begitu menonjol bagi Leicester. Bagi penggemar Fantasy Football, nama-nama seperti Riyad Mahrez dan Jamie Vardy tentu sangat populer dan berkesan. Total 20 dari 28 gol yang sudah dicetak Leicester musim ini berasal dari dua nama tersebut.

Namun, Leicester ternyata tidak hanya Vardy dan Mahrez, ada beberapa sosok di bawah radar yang bermain spartan namun tak mendapat apresiasi yang pantas. Berikut beberapa sosok penting di balik kesuksesan Leicester musim ini.

Claudio Ranieri

Datang menggantikan Nigel Pearson pada awal musim, Ranieri berhasil dengan cara yang susah dijelaskan mengubah Leicester City menjadi sangat kolektif dan spartan. Tinkerman, julukan Ranieri, melepaskan diri dari stigma pelatih asal Italia yang gemar bermain pragmatis dan pasif.

Data statistik berbicara, Leicester mencatat rekor selisih gol yang buruk, hanya surplus 8 gol, kebobolan 20 gol namun berhasil mencetak 28 gol.

Kemampuan Ranieri membaur dengan pemain merupakan faktor yang juga perlu diapresiasi. Selepas laga debutnya, Ranieri menjanjikan akan mentraktir pizza kalau anak asuhnya pada pekan berikut bisa menang dan mencetak cleansheet.

Ketika kemudian Leicester berhasil menumbangkan Crystal Palace dengan skor 1-0, Ranieri menepati janjinya dan membawa rombongan pemain untuk makan pizza bersama.

Spirit dan kolektifitas yang dibangun Ranieri, setidaknya, sampai saat ini mampu membawa tim asal East Midland ini berada di jajaran elit tim papan atas Liga Inggris. Jauh di atas juara bertahan Chelsea bahkan.

Sekadar trivia, sebelum kedatangan Jose Mourinho yang di-nabi-kan suporter Chelsea itu, Ranieri adalah pelatih Chelsea yang sebenarnya cukup bagus. Sempat mendatangkan Claude Makelele ke Stamford Bridge dan membangun skuat Chelsea yang kompeten sebelum si raja minyak dari Rusia datang dan merombak tim secara masif.

N’Golo Kante dan Gokhan Inler

Banyak yang abai dengan nama gelandang yang didatangkan dari SM Caen ini, bukan? N’Golo Kante adalah gelandang dengan jumlah tekel sukses terbanyak di seluruh liga top di Eropa tahun lalu dengan total 145 tekel sukses dari 281 percobaan tekel. Jauh di atas Francis Coquelin atau Nemanja Matic dan Arturo Vidal sekalipun.

Gelandang yang “hanya” bertinggi 169cm ini mampu menjadi tembok nyaman bagi lini tengah Leicester City. Dia juga pemuncak statistik intersepsi tertinggi di Liga Inggris musim ini dengan jumlah 55 kali memotong bola. Catatan itu di atas nama-nama beken sekelas Laurent Koscielny, Chris Smalling hingga John Stones.

BACA JUGA:  Perwujudan Ambisi Riyad Mahrez

Sedangkan bagi Inler, pengalaman dan determinasinya masih merupakan kontribusi yang positif bagi lini tengah Leicester yang ditinggalkan Esteban Cambiasso ke Olympiakos.

Kapten timnas Swiss ini mampu bersinergi dengan baik bersama N’Golo Kante atau Danny Drinkwater di formasi baku 4-4-2 milik Ranieri. Dua nama tersebut adalah strategi transfer terbaik Leicester City musim ini.

Marc Albrighton dan Nathan Dyer

Kalau di sayap kanan ada nama Riyad Mahrez, di bagian sayap kiri bergantian ada nama Marc Albrighton dan Nathan Dyer yang sama-sama bermain cukup baik.

Albrighton, produk resmi akademi Aston Villa, dan putra asli Birmingham, sudah berkarier di Leicester sejak musim lalu, dan di awal musim ini, sempat beberapa kali menempati posisi inti di sayap kiri Leicester sebelum posisinya dirotasi bergantian bersama Nathan Dyer.

Albrighton bersama Danny Drinkwater sendiri sudah menyumbang tiga asis dan berada di bawah Riyad Mahrez untuk catatan koleksi umpannya.

Sedangkan bagi Nathan Dyer, kepindahan ke Leicester setelah sebelumnya bersama Swansea City adalah upaya restorasi karir. Makin moncernya Jefferson Montero dan kedatangan Andre Ayew di Swansea membuat Dyer pindah ke Leicester jelang musim 2015/2016.

Selain cukup tricky dan lincah, Dyer punya kecepatan yang baik dan lihai melepaskan umpan silang yang mumpuni. Saat Leicester membalikkan kekalahan 2-0 dari Aston Villa menjadi kemenangan 3-2 di akhir laga, Dyer adalah salah satu pemain yang tampil menonjol dengan satu gold an satu asis.

Sejak laga itu hingga pekan ke 13 kemarin, Dyer rutin menyisir serangan sayap Leicester bersama Mahrez sebagai pemain inti.

Riyad Mahrez

Sebuah dosa besar yang bisa berujung menjadi kafir ketika menafikan peran penting winger lincah dari Aljazair ini. Walau sebenarnya sudah cukup memukau bersama timnas Aljazair sejak Piala Dunia 2014 lalu, nama Mahrez di timnas masih kalah tenar dibanding Sofiane Feghouli atau Islam Slimani dan sang kiper, Rais Mbolhi yang tampil gemilang saat melawan Jerman.

Musim ini menjadi pembuktian Mahrez, yang sebenarnya, sejak periode Januari 2015, sudah mengalami peningkatan performa yang luar biasa. Puncaknya, di awal musim ini, mesin panas Mahrez semakin naik dan terbukti dengan catatan tujuh gol dan tujuh asis untuk membantu Leicester City memuncaki klasemen sementara Liga Inggris.

Performa Riyad Mahrez konon menggoda Barcelona untuk mendatangkannya di bursa Januari atau sekitar bursa transfer musim panas 2016 nanti. Walau masih sekadar rumor, ketertarikan Barcelona saja sudah menjadi pengakuan penting betapa menariknya permainan Mahrez musim ini.

BACA JUGA:  Jalan Sunyi Mario Balotelli

Last but not least, the one and only, Jamie Vardy

Nikmat Jamie Vardy mana yang Anda dustakan, wahai suporter Leicester City dan penggila Fantasy Premier League? Saya tidak main-main dan bercanda ketika menulis kalimat tersebut.

Sejak moncernya penampilan Vardy dengan catatan 13 golnya musim ini, bahkan menyamai rekor Ruud Van Nistelrooy saat mencetak 10 gol beruntun dalam 10 laga, di Indonesia mulai diinisiasi sebuah akun fanbase Leicester City.

Anda bisa cek di linimasa Twitter untuk membuktikannya, atau, mungkin, Anda berminat untuk bergabung menjadi pemuja Leicester bersama mereka. Akunnya @LCFC_ID kalau Anda berminat untuk gabung.

Itu salah satu Vardy’s effect yang luar biasa masifnya. Mau tahu apa efek senasional Jamie Vardy yang satu lagi? Konon, berdasarkan sumber dan desas-desus di kolom Mirror dan Guardian, nama Jamie Vardy ada di daftar belanja Real Madrid.

Setelah sukses menebus Gareth Bale dengan harga 100 juta euro, berapa harga yang mungkin dibayarkan Florentino Perez untuk Vardy? Tapi selain kabar itu masih rumor, dan juga performa Vardy sedang mengkilap musim ini, ada baiknya kita berfokus menikmati sajian Jamie Vardy di Liga Inggris musim ini, dan kalau kemudian dia benar pindah ke Madrid, sebaiknya mendoakan kariernya tak seperti Michael Owen.

Apa pun itu, Jamie Vardy adalah sensasi terbaik Liga Inggris sejauh ini, dan fakta itu susah dibantahkan. Saya bahkan mulai rutin menggunakan Leicester City di FIFA 16 yang sering saya mainkan akhir-akhir ini. Anda berminat terkena Vardy’s effect?

Kejutan Leicester City berikut penampilan konsisten Jamie Vardy dan Riyad Mahrez memang masif dan mencengangkan. Namun untuk menilai konsistensi penampilan Leicester City secara keseluruhan, utamanya saat melawan tim besar, baru bisa dilihat dalam beberapa pekan ke depan.

Mulai dari bulan Desember nanti, selama Boxing Day, hingga awal tahun baru nanti. Berturut-turut, banyak tim besar yang menanti mulai dari Manchester United akhir pekan nanti, dan beberapa di antaranya ada Liverpool juga Chelsea.

Tapi setidaknya, efek surealis dengan bercokolnya Leicester di peringkat pertama klasemen Liga Inggris patut diapresiasi lebih. Leicester mampu bermain atraktif, menyerang dan mampu memberi tontonan yang menarik tiap pekannya.

Kalau bisa stabil untuk setidaknya tidak kalah atau terjegal saat melawan tim besar, Claudio Ranieri bisa mengangkat trofi juara di akhir musim.

Tapi, walau tak juara pun, kemungkinan besar untuk mengamankan slot guna tampil di Liga Champions Eropa musim depan juga merupakan berkah luar biasa untuk tim yang musim lalu bahkan sampai jatuh bangun hanya untuk sekadar bertahan di kasta tertinggi Liga Inggris.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.