Jamie Vardy yang Ketagihan Mencetak Gol

Jamie Vardy

Jamie Vardy baru saja melewati rekor Ruud Van Nistelrooy dalam urusan mencetak gol. Satu golnya ke gawang kiper impian Real Madrid namun masih berseragam Manchester United (29/11) mengukuhkan namanya sebagai pencetak gol beruntun dalam sebelas pertandingan Liga Inggris.

Catatan luar biasa? Tentu. Bayangkan 990 menit Anda tidak pernah berhenti cetak gol. Bagaimana rasanya? Tanyakan ke Jamie Vardy, kalau Anda cukup kurang kerjaan dan memang sangat ingin tahu.

**

Beberapa waktu lalu, saya pernah suatu kali melihat satu kicauan di Twitter dari suporter Manchester United tentang salah satu pemain baru mereka musim ini, Memphis Depay. Isi kicauannya kurang lebih seperti ini “Football was easy when you don’t play to impress”.

Karena saya sangat tersentuh dan tergerak sekali dengan makna kicauan itu, segera saya kutipkan kicauan itu dan saya pinned tweet di linimasa saya segera. Saya yakin, ini kicauan yang kelak mampu menjadi diktum mutlak bagi para pemain sepak bola ke depannya.

Setara diktum bombastis cogito ergo sum yang luar biasa milik Rene Descartes itu. Bahwa bermain sepak bola harusnya dengan sederhana. Tidak perlu banyak step over atau rainbow flick, kecuali kalau Anda memang Lionel Messi, Cristiano Ronaldo atau bahkan Ronaldinho dan Maradona.

Main sederhana saja. Tak perlu berlebihan untuk mengundang decak kagum. Karena seperti yang banyak orang bilang dewasa ini, ketika Anda cetak gol (dan menang), mata penonton pasti akan menuju otomatis tertuju pada Anda. Sesederhana itu. Buat apa main indah kalau tak juara? Mau jadi seperti pemain-pemain Arsenal itu?

**

Jamie Vardy (dan mungkin Riyad Mahrez) adalah beberapa pemain yang menurut hemat saya bermain sederhana. Lari, lewati lawan semampunya, umpan, buka ruang dan tendang ke gawang kalau ada peluang terbuka. Sangat sederhana.

Mahrez pun, walau cukup lincah dan tricky, setidaknya memiliki kemampuan yang cukup apik dalam bermain sederhana dan tidak melulu menonjolkan kemampuan individunya.

BACA JUGA:  Keajaiban Leicester City

Hal yang sama pun ada di Vardy. Dia tahu tugas utama penyerang adalah mencetak gol, dan dia punya bekal kecepatan lari yang cukup mumpuni untuk menjadi seorang poacher handal.

Di game Football Manager pun acapkali pemain dengan pace dan akselerasi tinggi biasanya akan kita tempatkan sebagai poacher, bukan? Sebutlah semisal Sergio Aguero atau Daniel Sturridge misalnya.

Nama-nama tersebut selain punya insting gol bagus, juga memiliki kecepatan yang mumpuni untuk lepas dari perangkap offside lawan dan utamanya, sangat menyukai bola-bola daerah. Sekilas, melihat Jamie Vardy musim ini, ingatan saya menuju ke Michael Owen di masa-masa jayanya di Liverpool bersama Steven Gerrard, Steve Mcmanaman dan Emile Heskey.

Jamie Vardy musim lalu sebenarnya tidak terlalu mengkilap. Hanya empat gol sepanjang musim 2014/2015 dan kalah jauh dengan perolehan 13 gol milik penyerang utama Leicester City saat itu, Leonardo Ulloa.

Namun entah dengan pendekatan yang bagaimana Claudio Ranieri berhasil menyulap penyerang yang empat tahun lalu masih bermain di divisi amatir Inggris sehingga saat ini bisa bertengger menjadi pemuncak daftar top skor Liga Inggris dengan 14 gol dan tidak pernah berhenti mencetak gol dalam sebelas pertandingan beruntun.

Rekor yang tidak pernah dilakukan Thierry Henry, Fernando Torres, Luis Suarez dan silakan sebut nama penyerang top dunia lainnya yang pernah bermain di Liga Inggris sesuai yang kalian tahu dan idolai.

Ketika saya memainkan Jamie Vardy di FIFA 16 baru-baru ini, satu hal yang begitu menarik adalah statistik sprint speed-nya yang menyentuh angka 91. Dan memang, kecepatan lari pemain dalam game virtual terkadang sangat menguntungkan ya.

Bayangkan pemain-pemain yang seperti Gareth Bale dan Theo Walcott yang ketika dia berlari di FIFA, rasa-rasanya semua pemain yang dilewati hanya sekadar angin lalu. Coba tanya perasaan Marc Bartra yang di-overlapping oleh Gareth Bale.

BACA JUGA:  Mengikhlaskan Kepergian Gianluigi Buffon

Dan benar saja, ketika iseng mencari data di EA Sport Castrol Index, ternyata catatan kecepatan lari Jamie Vardy memang sangat luar biasa dan bahkan tertinggi dengan catatan 35,44 kilometer per jam. Jauh di atas nama-nama pelari cepat macam Alexis Sanchez atau Hector Bellerin sekalipun.

Dan golnya ke gawang United (29/11) di King Power Stadium adalah representasi kenapa kecepatan adalah senjata utama Vardy. Bola-bola daerah yang kerap dikirim bergantian oleh, entah Riyad Mahrez atau dari duo gelandang Danny Drinkwater dan N’Golo Kante misalnya, selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Vardy.

Jamie Vardy tahu tentang senjata utamanya dan Leicester serta Claudio Ranieri tahu cara memanfaatkan kelebihan Jamie Vardy tersebut. Dan wajar ketika kemudian pria asli Sheffield ini bisa rutin mencetak gol dalam sebelas laga beruntun. Selain fakta bahwa dirinya salah satu eksekutor penalti di Leicester setelah Riyad Mahrez.

Pertanyaan kemudian menyeruak, bagaimana kalau Jamie Vardy hanya one season wonder seperti Michu dari Swansea dulu, misalnya?

Tentu Anda harus memiliki kemampuan cenayang dengan level tinggi untuk bisa mengetahui itu, toh saya sudah bilang, Vardy’s effect adalah hal yang cukup masif mengingat Real Madrid saja bahkan berminat untuk meminangnya ke Bernabeu, entah kapan.

Sejauh ini, hingga bulan Desember ini, kombinasi Jamie Vardy dan Leicester City begitu harmonis dan mampu menopang serta memaksimalkan potensi sang penyerang hingga ke level yang cukup masif dan berdampak positif bagi tim.

Memang masih ada banyak laga berat, dan beberapa tim kuat siap menyapa Leicester beberapa minggu mendatang. Desember dan awal tahun adalah waktu yang tepat untuk melihat konsistensi Jamie Vardy.

Bagaimanapun, hingga detik ini, mantan penyerang liga amatir yang tahun depan berpotensi besar masuk skuat Inggris untuk Euro 2016 ini masih belum mau (mungkin) untuk berhenti mencetak gol.

Chat shit get banged, Jamie!

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.