Sepak Bola Tidak Pernah Usai, Chapecoense

Sesaat sebelum memulai tulisan ini, saya sedang membaca berbagai jenis berita dan kabar yang bisa saya temukan tentang tragedi di Medellin, Kolombia, yang menimpa salah satu kesebelasan dari Brasil, Chapecoense.

Banyak cerita heroik, walau tentu lebih banyak cerita haru yang begitu menyesakkan untuk dicerna nalar sehat kita. Chape, kesebelasan kecil dari Santa Carina, tengah berduka.

Promosi ke kasta teratas sepak bola Brasil sejak 2014, hanya dalam dua tahun, tim berjuluk Verdao (Big Green) ini sukses menembus final Copa Sudamericana 2016. Capaian yang luar biasa, mengingat tim ini baru dua tahun berlaga di kompetisi kasta tinggi dan masih berusia sangat muda, 43 tahun.

Chape adalah wujud indah yang bisa kita nikmati saat menonton dongeng Leicester City di Liga Primer Inggris musim lalu. Atau, sensasi Red Bull Leipzig di Bundesliga musim ini. Tim biasa yang dikelola dengan baik dan mampu tampil sebagai sebuah kesebelasan yang kolektif dan taktis.

Sesaat kemudian, saat memutuskan akan mulai menulis, saya teringat kalimat di bio Twitter Fandom yang bertuliskan, “Karena Sepak Bola Tak Selesai Dalam 90 Menit.” Dengan semangat dari Fandom dan pemahaman yang sama bahwa sepak bola tidak akan usai hanya karena garis takdir dan kematian, artikel ini harus dituliskan.

Bagi saya pribadi, tragedi Chapecoense di Kolombia adalah hal yang mengusik nurani. Ia menggedor-gedor sanubari dan memaksa saya bersedih di titik yang hebat. Saya bergidik membayangkan apa jadinya jika kesebelasan pujaan saya yang sedang menaiki pesawat untuk kemudian mengalami musibah?

Apa jadinya jika itu menimpa kesebelasan tim nasional negara saya?

Membayangkan hal-hal seperti itu menimpa kesebelasan yang terikat secara emosional dengan kita membuat kepiluan yang menimpa Chapecoense adalah kesedihan mendalam bagi sepak bola di seluruh dunia.

BACA JUGA:  Piala Menpora: Antara Harapan dan Pertaruhan

Paris Saint-Germain baru saja mengonfirmasi pada FIFA akan menyumbangkan 40 juta euro untuk Chapecoense. Sementara itu, Cristiano Ronaldo, kapten Portugal dan juga bintang Real Madrid itu berencana mendonasikan 3 juta euro.

Atletico Nacional, kesebelasan asal Kolombia calon lawan Chape di final, membuat sikap agar Conmebol memberikan gelar Copa Sudamericana pada Chapecoense tanpa perlu melangsungkan pertandingan.

Hal-hal inilah yang membuat kenapa kita boleh geram dengan terorisme, tragedi bom, dan peperangan di dunia fana ini, tapi sepak bola, sekali lagi, membuat kita sadar bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu masih ada.

We lost hope in humanity until Chapecoense makes us believe again. Saya rasa, di titik itu pula kenapa kita berhutang banyak pada Chapecoense.

Sebanyak 76 penumpang pesawat yang tewas di Medellin, utamanya, bagi sebagian besar penggawa tim utama dan staf Chapecoense, mereka adalah martir bagi kemanusiaan.

Mereka membuat kita benar-benar percaya bahwa trofi bukan tujuan utama dari sepak bola. Trofi tetap sebuah kebanggaan. Trofi ada untuk membuat sepak bola menjadi kompetitif dan menarik.

Tapi di atas semua itu, di atas segala gelimang uang, gelar, kejayaan, dan puja-puji, sepak bola menyisakan satu ruang yang luas bagi kemanusiaan.

Sepak bola, sekali lagi, menjadi sangat humanis. Ia menjadi sangat dekat dengan kita. Entah kita bisa menendang atau menggiring bola atau tidak. Entah kita berasal dari Asia, Eropa, Amerika, atau Afrika sekalipun.

Sepak bola membuat kita percaya kemanusiaan masih berada di titik tertinggi dalam tatanan dunia internasional saat ini.

Di tengah kecamuk perang yang mengancam kawan-kawan di Irak dan Suriah hingga Palestina. Di tengah himpitan krisis federasi dan aroma politik di sepak bola Indonesia. Di bawah bayang-bayang teror di Paris yang sempat mengancam Piala Eropa 2016 lalu.

BACA JUGA:  Tapak Tilas Prestasi dan Mulut Besar Romario

Sepak bola menjadi wujud utama kenapa di lapangan hijau, tidak hanya bola bulat yang ditendang, tapi juga kekerasan, rasisme, dan teror bagi kemanusiaan. Dan itu semua berkat Chapecoense. Kita menjadi rasional berkat Chapecoense. Kita kembali menjadi manusia yang humanis, berkat tim dari kota Chapeco itu.

Di tengah duka yang mendalam saat ini, kita wajib percaya bahwa tim yang identik dengan warna hijau ini agar bisa kembali dan melanjutkan tinta emas sejarah yang dicetak pendahulu mereka yang terbang ke surga untuk bermain sepak bola di tanah yang lebih lapang dan menyenangkan.

Chapecoense menjadi pengingat sejarah, utamanya bagi penikmat bola di generasi saya yang tidak mengalami langsung hidup di masa-masa peristiwa Superga Torino atau Tragedi Munchen. Ia mengingatkan kita akan satu hal, bahwa sebuah tragedi pernah merenggut habis satu kesebelasan sepak bola hebat dari Brasil.

Dan di masa depan, kita sebaiknya percaya dan berharap penuh, tim ini, tidak hanya diingat hanya dari tragedi memilukan di Medellin tapi juga karena nama mereka yang berkibar sebesar Santos, Sao Paulo, atau Flamengo sebagai kesebelasan elit di Brasil.

Sepak bola tidak pernah usai, Chapecoense. Tidak dalam 2×45 menit. Tidak juga dalam 2×15 menit, dan adu penalti sekalipun.

Sepak bola tidak akan pernah usai hanya karena takdir menggoreskan akhir bagi sebuah nyawa. Dan ini yang paling penting, sepak bola tidak akan pernah usai karena kalian, manusia-manusia hebat dari Chapeco, hidup dalam ingatan kami.

Football in peace, Chape.

 

Komentar
Isidorus Rio Turangga Budi Satria
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.