Tangan Dingin Ralph Hasenhuttl

Setiap kali berpikir tentang pelatih yang mampu membawa tim-tim medioker mengeluarkan seluruh potensi terbaiknya guna tampil apik dan menciptakan beberapa kisah ajaib, maka salah satu nama yang mencuat di kepala  saya adalah Ralph Hasenhuttl.

Menilik kiprah sebagai pelatih, pria kelahiran asal Austria ini seolah memiliki keahlian khusus dalam meramu kekuatan bagi tim-tim semenjana. Memulai karier sebagai kepala pelatih di SpVgg Unterhaching pada 2007 silam, Hasenhuttl sanggup memperlihatkan sentuhan dinginnya. Kendati tak ada prestasi signifikan yang diperoleh, tetapi Hasenhuttl berhasil mencatat rekor menang-seri-kalah yang cukup bagus dan nyaris membawa Unterhaching beroleh tiket playoff promosi dari 3. Liga (divisi ketiga dalam kancah persepakbolaan Jerman).

Selepas melatih Unterhaching, ia melanjutkan kariernya di VfR Aalen per Januari 2011. Musim pertamanya dijalani dengan membawa klub yang berkandang di Stadion Ostalb Arena tersebut bertahan di 3. Liga. Kisah lebih manis diukir Aalen besutan Hasenhuttl pada musim kedua usai finis di peringkat kedua dan berhak naik kasta ke 2. Bundesliga.

Bermain di divisi yang lebih tinggi tak bikin Aalen kepayahan. Berkat racikan strategi sang pelatih, mereka berhasil nangkring di peringkat sembilan. Namun sayang, Hasenhuttl memutuskan mundur di pengujung musim 2012/2013 guna mencari tantangan baru.

Tepat di bulan Oktober 2013, Hasenhuttl ditawari manajemen FC Ingolstadt 04 buat menangani tim. Hal itu tak bisa ditampik lelaki kelahiran Graz tersebut. Musim pertama dilalui dengan keberhasilan lolos dari jerat relegasi. Sementara musim kedua diakhiri Ingolstadt secara gemilang karena sukses beroleh tiket promosi ke Bundesliga untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Musim perdana Ingolstadt di kasta teratas berlangsung apik karena Hasenhuttl mengantar mereka menyudahi musim di peringkat ke-11. Nahasnya, sang pelatih ogah memperpanjang kontraknya yang selesai pada pengujung musim 2015/2016 di Stadion Audi Sportspark.

Usut punya usut, hal itu disebabkan oleh kesepakatan yang sudah terjalin di antara Hasenhuttl dan kubu RasenBallsport (RB) Leipzig untuk bekerja sama. Per musim 2016/2017, sosok yang pernah memperkuat FC Koln dan Greuther Furth selama aktif sebagai pemain itu resmi diangkat sebagai nakhoda anyar.

Walau Leipzig bukan kesebelasan medioker seperti tim-tim yang ditangani Hasenhuttl sebelumnya, tetapi gebrakan besar mampu dilakukannya bersama Die Roten Bullen. Secara mengejutkan, Leipzig sukses menyelesaikan musim 2016/2017 dengan duduk di posisi dua klasemen. Catatan itu sendiri merupakan yang terbaik bagi tim asal timur Jerman tersebut.

BACA JUGA:  Kegagalan dan Warisan Van Gaal

Pada musim kedua, Hasenhuttl memang gagal mengulangi performa elok di musim sebelumnya lantaran Leipzig cuma finis di posisi keenam, tetapi kinerjanya dianggap cukup brilian oleh fans. Namun kisah sebaliknya justru dirasakan oleh manajemen. Mereka tak menyodori perpanjangan kontrak buat Hasenhuttl sehingga sang pelatih minggat di pengujung musim 2017/2018.

Menjawab Tantangan dari Southampton

Ketika hubungannya dengan Leipzig kandas, Hasenhuttl sempat dikait-kaitkan dengan dua klub besar Benua Biru yaitu Arsenal dan Bayern Munchen. Walau demikian, kolaborasi dengan Hasenhuttl tak pernah terwujud. Sempat menganggur, tawaran baginya datang dari klub asal selatan Inggris yang kiprahnya biasa-biasa saja, Southampton.

The Saints secara resmi memperkenalkan Hasenhuttl sebagai manajer baru menggantikan Mark Hughes pada awal Desember 2018 lalu. Sebuah pengumuman yang membawa harapan anyar di Stadion St. Mary’s. Pasalnya, ketika itu Southampton tengah berkutat di papan bawah Liga Primer Inggris. James Ward-Prowse dan kawan-kawan cuma mampu menang sekali dari 15 laga. Mereka pun terjerembab di peringkat ke-18 dengan raihan sembilan poin.

Membawa Southampton lepas dari cengkeraman degradasi adalah tugas yang diemban Hasenhuttl. Mudah? Tentu saja tidak. Ada banyak hal yang ia pertaruhkan saat menerima pinangan The Saints. Namun Hasenhuttl malah menyebut keputusan itu adalah logis dan bagus untuk kariernya. Seakan-akan, ini menjadi pertanda bahwa sang pelatih memang suka dengan tantangan.

Ungkapan rasa percaya diri Hasenhuttl di awal kedatangannya itu bukan omong kosong belaka. Pelan tapi pasti, ia sanggup mengatrol posisi klub yang berdiri pada 21 November 1885 itu buat finis di posisi ke-16 klasemen akhir. Sebuah pencapaian yang bikin manajemen dan fans memberinya apresiasi lebih.

Pada musim 2019/2020 kemarin, Southampton mendatangkan Che Adams, Moussa Djenepo, dan mempermanenkan Danny Ings. Ketiga pemain ini memberi keleluasaan buat sang juru taktik untuk menerapkan strategi kesukaannya.

Gaya bermain yang ia kembangkan memang mirip dengan yang diterapkan oleh Jurgen Klopp. Hasenhuttl pun mengakui bahwa ia pertama kali melihat gegenpressing ketika Klopp melatih Borussia Dortmund. Konon, ia melihatnya secara diam-diam melalui pegunungan Alpen dengan bantuan teropong. Maka dari itu ia dijuluki sebagai Klopp dari Alpen.

BACA JUGA:  Samurai-Samurai Jepang di Benua Biru

Kultur sepakbola Inggris yang berbeda dengan Jerman tak membuat Hasenhuttl ragu menerapkan ide-idenya. Dengan materi pemain The Saints yang dipahaminya, pola permainan yang mengandalkan aliran bola dari kaki ke kaki, kecepatan, pressing ketat, dan serangan balik mematikan jadi identitas Southampton di bawah asuhannya.

Perjalanan karier Hasenhuttl di Negeri Ratu Elizabeth sempat diragukan gara-gara kekalahan telak yang diderita Southampton dari Leicester City musim kemarin. Tak tanggung-tanggung, kedudukan akhir yang terpampang di papan skor adalah 0-9! Kekalahan mencolok itu sempat membuat beberapa pihak beranggapan bahwa Ward-Prowse dan kawan-kawan akan tercecer di papan bawah atau bahkan terdegradasi di akhir musim.

Berbekal dukungan manajemen, Hasenhuttl tak menggubris hal tersebut dan fokus mengembalikan kepercayaan diri anak asuhnya. Benar saja, tren negatif Southampton perlahan lenyap dan menyudahi musim di peringkat kesebelas. Hal inilah yang membuat manajemen tak ragu untuk memperpanjang masa baktinya sampai musim panas 2024 nanti.

Meski identik dengan tim yang biasa-biasa saja, tetapi di bawah arahan Hasenhuttl, Southampton menunjukkan perubahan. Pada awal musim 2020/2021 ini, hal itu tampak mencolok sekali. Tanpa diduga, penghuni Stadion St. Mary’s tersebut nyaman menempati peringkat empat klasemen sementara. Dari 8 pertandingan, The Saints menang di lima laga, seri sekali dan tumbang di dua pertandingan sisanya.

Klub yang meroketkan nama-nama seperti Gareth Bale, Matthew Le Tissier, Alan Shearer, dan Theo Walcott ini bahkan sempat mencicipi puncak klasemen sementara. Sebuah hal yang jarang sekali mereka rasakan kendati sering berkiprah di Liga Primer Inggris.

Kompetisi memang masih sangat panjang dan ada segunung rintangan yang mesti dihadapi Ward-Prowse beserta kolega. Namun dengan presensi Hasenhuttl di kursi pelatih, kans untuk melahirkan kejutan terbuka sangat lebar bagi Southampton.

Komentar
Penggemar Persija dan Juventus yang bisa disapa di akun Twitter @gerrymaulanaaa