Seto Nurdiantoro dan Rencana Keuangan Pesepak Bola

Pembekuan PSSI oleh Menpora berakibat pada tidak bergulirnya kompetisi. Indonesia Super League (ISL) yang sudah mulai memainkan pertandingan dihentikan. Divisi Utama yang belum dimulai juga dipastikan mengikuti jejak liga di atasnya tersebut. Liga Nusantara yang sudah mulai bergulir di beberapa regional pun berhenti.

Menpora sempat mengusulkan agar PT Liga tetap memutar kompetisi, tetapi usul itu ditolak, baik oleh operator maupun klub. Dari pihak Menpora sendiri, tim transisi yang digadang-gadang bisa memberi jalan keluar terbaik bagi persepakbolaan Indonesia nyatanya justru belum bekerja – setidaknya hingga artikel ini ditulis. Bahkan, empat dari 17 anggota awal tim transisi sudah menyatakan pengunduran dirinya.

Alhasil ini berakibat pada kelangsungan hidup klub. Ketidakjelasan kompetisi akhirnya memaksa klub untuk mengambil langkah yang tidak populer. Klub ISL pada umumnya meliburkan pemain hingga nanti ada kejelasan kompetisi. Sebagian lain juga membicarakan penyesuaian kontrak dengan pemain.

20150506_Seto_Hasbi

Sementara itu, klub-klub Divisi Utama mulai membubarkan diri. Di Yogyakarta, PSS Sleman membubarkan diri pada tanggal 10 Mei 2015 lalu. Langkah ini diikuti oleh PSIM Yogyakarta yang membubarkan diri pada 13 Mei 2015 dan bisa dipastikan akan diikuti oleh Persiba Bantul pada 15 Mei 2015.

Tiga klub dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini bisa dipastikan tidak sendirian. Banyak klub Divisi Utama dan Liga Nusantara yang tampaknya akan menempuh jalan serupa karena ketidakpastian kompetisi jelas membuat proyeksi pendapatan kacau. Bukan tidak mungkin klub-klub ISL pun akan melakukan langkah serupa.

Jika sudah begini, tentu pemain sepak bola ikut jadi korban. Mereka yang sehari-hari menggantungkan hidup pada sepak bola kini perlu memutar otak untuk bisa terus menjalani hidup. Bagaimana mereka bisa membiayai kebutuhan hidup beserta sanak keluarga jika tidak ada kompetisi yang digulirkan?

BACA JUGA:  PSS-PSIS: Dari Tribun Maguwoharjo

Namun, perbincangan soal keberlangsungan hidup pesepak bola bukan kali ini terjadi. Sudah sejak lama, apalagi ketika marak gaji yang tak terbayar, kelangsungan hidup para pemain dipertanyakan.

Ada yang akhirnya bisa memeroleh gajinya setelah sekian lama berjuang. Ada yang memilih banting setir menggeluti profesi lain. Ada pula yang akhirnya meregang nyawa akibat sakit dan tak mampu berobat lantaran tak punya uang.

Oleh karena itu, sangat penting bagi pesepak bola untuk pandai mengelola keuangan. Para pesepak bola harus menyadari bahwa tidak selamanya mereka bisa hidup dari lapangan karena usia produktif mereka lebih pendek jika dibandingkan profesi lainnya. Apalagi kondisi sepak bola Indonesia sejak dulu tidak menentu. Tak bisa memberi jaminan apa-apa.

“Ya kita tahu kondisi sepak bola negeri ini masih serba tidak pasti. Jadi ya kita perlu pandai-pandai me-manage keuangan,” ujar Seto Nurdiantoro, pelatih PSIM Yogyakarta ketika kami bertemu di kediamannya pekan lalu.

Pemain bernama lengkap Matheus Seto Nurdiantoro ini punya kiat untuk menyiasatinya. Dia berwirausaha dengan uang yang dia peroleh dari sepak bola. Seto sudah bermain di level senior sejak tahun 1995 bersama PSIM. Dia kemudian enam tahun bersama Pelita, baik yang bermain di Jakarta dan Surakarta. Tahun 2000, dia kembali ke klub yang membinanya, PSS Sleman. Bermain di Sleman hingga 2005, dia kemudian bermain kembali untuk PSIM dan Persiba hingga akhirnya kembali ke PSIM tahun 2011 hingga pensiun pada 2013 lalu.

20150506_SetodiPSS_Hasbi

Seto mengatakan bahwa gaya hidup sangat berpengaruh pada karir sepak bola dan masa depan pasca pensiun. Jika tak bisa mengelola keuangan dan bergaya hidup mewah, ketika punya uang banyak dari bermain bola semuanya bisa dihabiskan hingga kemudian kebingungan ketika gaji dari lapangan hijau tak lagi datang.

BACA JUGA:  Sepenggal Cerita Kompetisi Perserikatan Tahun 1931 (Bagian Pertama)

“Kalau dulu masih ada potensi berkarier sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena Perserikatan membawa nama daerah. Atlet berprestasi pasti ditawari jadi PNS. Kalau sekarang kan tidak. Jadi harus pandai mengatur keuangan dan mau membuka usaha,” ujar Seto sembari mengenang dulu sempat ditawari menjadi PNS ketika bermain untuk PSS.

Seto sendiri meski punya kesempatan untuk menjadi PNS akhirnya memilih berbisnis. Gaji yang dia peroleh, sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk menjadi modal usaha. Kini, Seto punya usaha penyewaan lapangan futsal dan cuci mobil.

“Ya ada usaha lapangan futsal tapi cuma satu lapangan. Sama tempat cuci mobil. Tapi hasilnya lumayan. Bisa untuk menghidupi keluarga. Sementara ini istri yang urus dibantu adik, kalau saya fokus memulai karier sebagai pelatih sepak bola dulu. Tapi nanti kalau akhirnya libur ya saya ikut terjun,” cerita Seto tentang usaha yang digeluti oleh keluarganya.

Apa yang dilakukan oleh Seto ini penting. Karier sepak bola bisa berhenti sewaktu-waktu. Cedera selalu jadi momok utama bagi setiap pesepak bola. Jadi, perlu ada rencana lain di luar sepak bola agar hidup tetap terjamin. Dan apa yang dilakukan oleh Seto ini sangat perlu dicontoh oleh pesepak bola muda agar tidak menyesal di kemudian hari.

Belajar mengelola keuangan jelas sangat penting demi masa depan yang cerah. Kalau terlalu malas untuk belajar keuangan, pemain muda sebaiknya mencari calon pendamping hidup sarjana ekonomi yang pandai mengelola keuangan sekaligus punya mental kuat untuk berwirausaha.

 

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.